May 31

Promo Umroh Syawal 1439 H

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh..

Bagi yang ingin berumrah di Bulan Syawal 1439 Hijriah (Di atas tanggal 16 Juni 2018), anda akan merasakan sensasi berumrah ketika Masjidil Haram (ka’bah) sangat lengang, silahkan hubungi ELFIRDAUS BAITULLAH, hanya dengan Rp 26,5 jt (All in) =>TERBATAS, 20 SEAT.

Informasi Lengkap hubungi:

Telp: 081514 555671.

WA: 0812 9497563.

May 05

Ramadhan: Momentum Perubahan

Ramadhan  adalah momentum tepat melakukan perubahan dalam berbagai segi kehidupan. Mulai dari individu, keluarga, masyarakat ataupun negara, untuk taat kepada Allah SWT.

Patut kita syukuri atas nikmat yang telah Ia berikan kepada, sampai hingga kini Allah SWT masih memberikan kesempatan kepada kita yang akan bertemu dengan bulan yang penuh dengan ampunan dan berkah, Ramadhan. Salah satu bukti syukur kita adalah berusaha menjadikan Ramadhan tahun ini sebagai momentum perubahan. Tidak hanya perubahan dalam tataran individu, namun juga masyarakat dan negara.

Ramadhan dapat kita jadikan momentum perubahan, ketika kita mampu memahaminya dengan benar. Salah satunya meyakini Ramadhan sebagai sarana meningkatkan ketaatan total kepada Allah SWT. Sehingga, pasca Ramadhan tampak perubahan pada diri kita khususnya, dan masyarakat umumnya.

Allah SWT berfirman :

ياأيهاالذين أمنواكتب عليكم الصيام كم كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون  { البقرة : 183 }

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)

Jauh hari menjelang ramadhan, Rasulullah SAW dan para sahabat telah melakukan persiapan. Mulai dari memantapkan keimanan (ruhiyah) hingga melakukan persiapan fisik, agar ketika Ramadhan telah benar-benar siap dalam melakukan berbagai macam bentuk ketaatan.

‘Aisyah RA mengungkapkan, ”Saya tidak pernah melihat rasulullah menyempurnakan puasanya kecuali pada bulan ramadhan. Saya tidak melihat rasulullah dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan sya’ban” ( HR Muslim ).

Dengan persiapan matang, kualitas shaum generasi awal sangat luar biasa. Amalan–amalan utama saat Ramadhan tidak pernah terlewatkan. Termasuk melakukan jihad fii sabilillah, walau dalam keadaan shaum. Lemahnya fisik tidak menjadi penghalang untuk meraih kemenangan, ketika kekuatan ruhiyah tertanam kuat dalam dada.

Sejarah mencatat beberapa perang besar saat Ramadhan yang membawa perubahan besar dalam sejarah. Di antaranya, perang Badar Al kubra pada 17 Ramadhan 2 Hijriah (Januari 624).

Menurut ibnu Hisyam, inilah perang pertama yang menentukan kedudukan umat islam dalam menghadapi kemusyrikan dan kebatilan. Allah SWT mengutus malaikat untuk membantu pasukan muslimin. Enam tahun kemudian, tepatnya 10 ramadhan 8 H (Januari 630 M), terjadi peristiwa penaklukkan kota mekah (Fathu Makkah).

Lalu ada perang Tabuk (Ramadhan 9 H) dan datangnya utusan Raja Himyar ke Madinah untuk menyatakan masuk islam, penyebaran islam ke Yaman di bawah pimpinan Ali bin Abi Thalib (Ramadhan 10 H), kemenangan tentara islam di pulau Rhodes (Ramadhan 53 H), pendaratan pasukan islam di pantai Andalusia Spanyol (Ramadhan 91 H), dan kemenangan panglima Thariq bin Zaid atas Raja Frederick dalam perang Fashillah (Ramadhan 92 H).

Pada Ramadhan 584 H, Panglima Islam, Salahuddin Al Ayyubi, meraih kemenangan gemilang. Tentara islam mengambil alih daerah–daerah yang sebelumnya dikuasai pasukan salib. Pada Ramadhan 658 H, kerajaan Tartar hancur dan pasukannya ditahan di pintu gerbang masjid di kota ‘Ain Jalut.

Idealnya, perubahan yang kita lakukan bukankah perubahan parsial, namun sebuah “revolusi”. Seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW, para sahabat dan generasi – generasi sesudahnya. Awali semuanya dengan menargetkan dan merancang perubahan tersebut secara bertahap. Dalam konteks ini, kita dapat mengawalinya dengan persiapan ilmu dan pemahaman yang benar tentang Ramadhan, serta ibadah–ibadah yang dianjurkan .

Persiapkan pula motivasi dan mental. Sudahkah kita menghisab diri, berapa banyak kita melaksanakan perintah –nya dengan ikhlas. Berapa banyak nikmat Allah swt yang kita ingkari. Padahal setiap perbuatan terikat dengan hukum syara’. Kita pun harus mempertanggung jawabkan semua yang pernah dilakukan. Siapa pun yang berani jujur pada dirinya, maka ia akan termotivasi untuk melakukan perubahan.

Syarat berikutnya adalah istiqamah atau konsistensi. Namun istiqamah ini memerlukan dukungan, baik dari internal (diri) maupun dari eksternal (lingkungan dan sistem). Tidak menutup kemungkinan kesalahan manusia disebabkan karena tidak kondusifnya lingkungan. Misalnya wanita Muslimah harus menanggalkan jilbabnya karena peraturan di tempat kerja mereka. Pemberantasan pornografi dan pornoaksi tidak bisa ditegakkan jika tidak ada undang–undangnya, dan sebagainya.

Sejatinya, perubahan itu tidak bisa terjadi hanya pada tataran individu saja. Sebab individu tidak bisa dilepaskan dari masyarakat dan aturan negara, pada masa Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin, ada tiga pilar penting untuk menjaga ketaatan terhadap aturan Allah. Yaitu pembinaan individu secara intensif, kontrol masyarakat, dan sistem (aturan negara). Pembinaan individu adalah untuk menjaga pemikiran kaum muslimin dari pemikiran–pemikiran yang merusak aqidah. Kontrol masyarakat berfungsi untuk  pengendalian dari kesalahan yang dilakukan individu.

Disinilah pentingnya kesalehan pribadi yang dibingkai kontrol masyarakat serta sistem yang islami. Sebab, islam adalah satu sistem, satu kesatuan yang tak terpisahkan . ketika satu bagian tidak berfungsi , maka fungsi bagian lain jadi tidak optimal.

Karena itu, manfaatkanlah Ramadhan sebagai momentum perubahan dalam aspek–aspek kehidupan kita. Entah itu dalam tataran individu, keluarga, masyarakat dan negara, agar lebih taat kepada Allah swt. Seminimalnya perubahan bagi diri sendiri dan keluarga, sebagai miniatur negara. Sebagaimana Al-qur’an yang turun ketika Ramadhan datang membawa misi perubahan, melakukan transformasi sosial dari masyarakat yang diliputi kegelapan menuju kehidupan yang terang benderang.

May 02

Penentuan Dimulai dan Berakhirnya Ramadhan

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, dia berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “jika kalian melihatnya (bulan sabit yang mengawali bulan Ramadhan-red) maka berpuasalah*, dan jika kalian melihatnya (bulan sabit yang mengawali bulan Syawwal-red) maka berbukalah; jika kalian dikabuti oleh awan (sehingga tidak bisa/terhalangi melihatnya-red) maka perkirakanlah hitungannya (dengan menyempurnakan bulan yang berkabut awan tersebut, yakni bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari-red)”.
* dengan meniatkan puasa pada malam harinya untuk esok harinya

Hadits ini ditakhrij (dikeluarkan) oleh Imam al-Bukhari dengan lafazh diatas, Imam Muslim, an-Nasai dan Ibnu Majah.

Hukum-Hukum syara’ ini dibangun atas al-Ashl (pondasi, pokok, landasan) sehingga tidak boleh beralih darinya kecuali dengan secara yakin.

Diantaranya; bahwa hukum asal dalam penentuan bulan Ramadhan adalah masih berjalannya bulan Sya’ban dan terbebasnya dzimmah (tanggungan dalam diri) dari kewajiban berpuasa, selama bulan Sya’ban tersebut belum sempurna tiga puluh hari sehingga diketahui telah berakhir atau melihat bulan sabit sebagai pertanda dimulainya bulan Ramadhan sehingga diketahui ia telah masuk.

Oleh karena itu, Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam mengaitkan berlakunya hukum puasa dan tidaknya di bulan Ramadhan dengan (dapat atau tidaknya) melihat (ru’yah) bulan sabit. Jika disana terdapat kabut awan, salju atau semisalnya maka beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam memerintahkan agar mereka memperkirakan hitungannya; yaitu dengan menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari penuh, kemudian baru mereka memulai puasa. Hal ini dilakukan berdasarkan kaidah yang berbunyi: “hukum asal sesuatu adalah masih berlaku/berjalannya statusnya yang terdahulu (yang sudah berlaku/berjalan) sebagaimana adanya”.

SEBAB TERJADINYA PERBEDAAN PENDAPAT DI KALANGAN ULAMA

Perbedaan pendapat tersebut terjadi karena terjadinya perbedaan penafsiran terhadap makna sabda beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam;  (faqduruu lahu) apakah maknanya “perkirakanlah hitungannya (dengan menyempurnakan hitungan bulan Sya’ban menjadi 30 hari) ” atau “persempitlah (ciutkan hitungan) bulan Sya’ban dan perkirakanlah (hitunglah) menjadi dua puluh sembilan hari saja”.

Diantara implikasi dari adanya perbedaan diatas adalah timbulnya perbedaan para ulama mengenai beberapa masalah:

  1. Masalah berpuasa pada tanggal 30 bulan Sya’ban; bila pada saat itu bulan sabit tidak muncul/kelihatan karena diselimuti oleh kabut awan, salju atau hal lainnya yang tidak memungkinkan untuk melihatnya (ru’yah). Terdapat dua pendapat para ulama mengenai hal itu:

Wajib berpuasa pada hari itu sebagai bentuk zhann (sangkaan; yang persentase kemungkinan benarnya adalah lebih dari 50%-red) dan tindakan ihtiath (preventif) ; ini adalah pendapat yang masyhur dari mazhab Imam Ahmad (pendapat ini dianggap sebagai mufradaat Imam Ahmad [satu-satunya pendapat di kalangan para imam mazhab yang empat] dan juga pendapat yang diriwayatkan dari sejumlah para shahabat, diantaranya; Abu Hurairah, Ibnu ‘Umar, ‘Aisyah dan Asma’.
Dalil :
Berdasarkan pengertian sabda nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam ; (faqduruu lahu) yang ditafsirkan dengan makna persempitlah (ciutkan hitungan) bulan Sya’ban dan perkirakanlah (hitunglah) ia menjadi dua puluh sembilan hari saja.

Tidak wajib berpuasa pada hari itu, dan jika berpuasa dengan menjadikannya sebagai ganti dari hari bulan Ramadhan maka hal itu dari sisi hukum tidak dianggap alias tidak shah ; ini adalah pendapat Jumhur Ulama, diantaranya tiga imam mazhab (selain Imam Ahmad); Imam Abu Hanifah, Imam asy-Syafi’i dan Imam Malik. Demikian juga, pendapat ini dipilih oleh Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyyah. Beliau menyatakan bahwa riwayat-riwayat yang demikian banyak dari Imam Ahmad menunjukkan dia memilih pendapat ini juga. Dan diantara para ulama besar mazhab Hanbali yang memilih pendapat ini adalah Abul Khaththab dan Ibnu ‘Aqil. Pengarang buku “al-Furu’ ” berkata: “saya tidak menemukan indikasi bahwa Imam Ahmad secara terang-terangan mewajibkan hal itu ataupun memerintahkannya; oleh karenanya tidak patut pendapat tersebut (yang menyatakan beliau mewajibkan berpuasa pada hari itu) dinisbatkan kepada beliau. Dalil :
Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh asy-Syaikhan (Imam Bukhari dan Muslim) dari Abu Hurairah secara marfu’ , sabda nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam : “Berpuasalah kalian (dengan meniatkan puasa malam harinya untuk esok harinya-red) karena melihatnya (munculnya bulan sabit pertanda datangnya bulan Ramadhan-red) dan berbukalah ( menghentikan puasa) karena melihatnya (munculnya bulan sabit pertanda datangnya bulan Syawwal-red); lalu jika kalian dikabuti oleh awan (sehingga tidak dapat/terhalangi melihatnya-red) maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari (penuh)“.

Jadi, hadits ini dan semisalnya menjelaskan tentang makna pertama yaitu “ perkirakanlah hitungannya (dengan menyempurnakan hitungan bulan Sya’ban menjadi 30 hari) ” .

Pendapat Jumhur ulama tersebut dipertegas lagi oleh Ibnu al-Qayyim dalam kitabnya al-Hadyu dimana beliau mendukung pendapat Jumhur dan menyanggah selain pendapat tersebut. Beliau juga menjelaskan bahwa tidak ada pendapat seorangpun dari para shahabat yang sharih (secara terang-terangan) yang dapat dipertanggung jawabkan kecuali dari Ibnu ‘Umar yang memang dikenal sebagai orang yang amat keras dan preventif dalam berpendapat.

Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyyah juga menyatakan bahwa pendapat yang dinisbatkan kepada Imam Ahmad berkenaan dengan wajibnya berpuasa pada hari yang diragukan (30 Sya’ban) tidak otentik dan valid. Demikian pula halnya dengan yang dinisbatkan kepada para shahabat Imam Ahmad meskipun sebagian dari mereka meyakini bahwa wajibnya berpuasa pada hari tersebut termasuk pendapat beliau. Pendapat beliau yang sharih dan dicantumkan secara tertulis dari beliau adalah bolehnya berbuka atau berpuasa pada hari itu. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Imam Abu Hanifah dan mayoritas para shahabat dan Tabi’in. Pokok-Pokok utama syari’at secara keseluruhan telah menetapkan bahwa tindakan preventif (al-Ihtiath) tidak memiliki implikasi wajib ataupun diharamkan.

  1. Masalah ; jika bulan sabit pertanda dimulainya bulan Ramadhan terlihat di suatu negeri, apakah hal itu mengharuskan semua orang berpuasa atau tidak? Setidaknya terdapat empat pendapat mengenai hal ini:

Wajib atas seluruh kaum muslimin dimanapun mereka berada untuk berpuasa ; ini adalah pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad dan para pengikutnya serta merupakan mufradaat mazhab beliau. Pendapat ini juga merupakan pendapat Imam Abu Hanifah.
Alasannya ; karena masuknya bulan Ramadhan telah mantap dan hukum-hukum yang berkaitan dengannya pun demikian, maka wajib berpuasa atas dasar tersebut.

Tidak wajib berpuasa bagi penduduk negeri yang lain bahkan setiap penduduk negeri dapat menentukan ru’yahnya secara tersendiri ; ini adalah pendapat sebagian ulama, yaitu pendapat al-Qasim bin Muhammad, Salim bin ‘Abdullah dan Ishaq bin Rahawaih.
Alasannya ; berdasarkan riwayat Kuraib yang berkata: “aku datang ke Syam (dan sudah berada disana) dimana ketika itu sudah mulai memasuki bulan Ramadhan; lalu kami melihat munculnya bulan sabit pada malam Jum’at. Kemudian di akhir bulan, aku kembali ke Madinah lalu Ibnu ‘Abbas menanyaiku (tentang banyak hal) kemudian menyinggung tentang bulan sabit seraya berkata: ‘kapan pertamakali kalian melihat munculnya bulan sabit (pertanda masuknya bulan Ramadhan)?. Lantas aku memberitahukan beliau tentang hal itu. Beliau berkata: ‘Tetapi kami telah melihatnya (dalam riwayat yang lain; memakai shighat fi’il al-Mudhari’ –red) muncul pada malam Sabtu dan kami masih berpuasa hingga kami menyelesaikannya tiga puluh hari penuh’. Lalu aku berkata: ‘bukankah cukup bagimu ru’yah Mu’awiyah dan puasanya?’. Beliau menjawab: ‘tidak! Demikianlah yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam kepada kami”. (H.R.Muslim).

Perlu rincian lagi; jika al-Mathaali’ – jamak dari kata mathla’ – (posisi munculnya bulan) berbeda maka masing-masing negeri harus berdasarkan mathla’ nya sendiri, sedangkan jika hal itu sama maka hukum puasa dan tidak puasanya bagi mereka satu paket ; ini adalah pendapat yang masyhur dari Imam asy-Syafi’i dan pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyyah.

Jika jarak antara kedua negeri kurang dari 2226 Km maka hilal (bulan sabit) mereka satu paket, dan jika lebih dari jarak tersebut maka tidak satu paket ; ini adalah pendapat as-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab al-Marakisyi sebagaimana yang dinyatakan dalam kitabnya “al-‘Azbuz Zallal fii Mabaahits Ru’yatil Hilal”.

INTISARI HADITS

  • Berpuasa di bulan Ramadhan terkait dengan ru’yah semua orang atau sebagian mereka terhadap hilal (bulan sabit). Ibnu Daqiq al-‘Ied menolak untuk mengaitkan hukumnya berdasarkan perhitungan ahli nujum (astrolog). Selanjutnya, ash-Shan’ani menjelaskan andaikata hal itu terbatas kepada perhitungan (hisab) mereka niscaya hanya sedikit orang yang mengetahuinya sedangkan syara’ dibangun atas apa yang diketahui oleh banyak orang.
  • Berbuka (tidak berpuasa) juga terkait dengan hal tersebut.
  • Bahwasanya jika hilal tidak terlihat, maka mereka tidak berpuasa melainkan menyempurnakan bilangan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari, demikian pula mereka tidak berbuka melainkan menyempurnakan bilangan bulan Ramadhan menjadi tiga puluh hari.
  • Bahwasanya jika terdapat kabut awan, mereka memperkirakan bilangan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari penuh. Ash-Shan’ani berkata: “Jumhur Fuqaha dan Ahli Hadits berpendapat bahwa yang dimaksud dengan sabdan beliau (faqduruu lahu) adalah menyempurnakan bilangan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari sebagaimana yang ditafsirkan dalam hadits yang lain.

(Disadur dari kitab Taysiirul ‘Allaam Syarhu ‘Umdatil Ahkaam , karya Syaikh ‘Abdullah Ali Bassam, jld. I, hal. 409-413, hadits ke-175).

Apr 05

PAKET UMROH PROMO 2018

APRIL-MEI 2018  (Resmi & Berasuransi)
~
Tersedia juga program umroh awal Ramadhan, pertengahan Ramadhan, dan akhir Ramadhan 1439 H.

»»»
(EKONOMI)
QUAD : 23.000.000
MAKKAH: REYADAH HIJRAH 4N
MADINAH: DAR NAEEM 3 N
~
(REGULER/MEDIUM)
QUAD: 25.500.000
MAKKAH: AZKA SAFA 4N
MADINAH: HYATT MADINAH 3N
~
(VIP)
QUAD: 30.500.000
MAKKAH: ZAM_ZAM 4 N
MADINAH : GLORIA 3 N

Harga tersebut Quad (1 kamar 4 org),  sudah All in.

 

Untuk info lengkap hubungi nomor whatsapp 0812 949 7563 / telepon 0815 1455 5671.

Feb 13

Tips Mempersiapkan Diri Sebelum Berangkat Ibadah Umroh

Sebelum berangkat Umroh tentu kita harus membuat persiapan, supaya ibadah yang kita kerjakan di tanah suci nanti bisa maksimal. Ada beberapa tips persiapan untuk umroh yang akan dibahas dalam artikel ini.

A. Persiapan ruhani

  1. Kita harus meluruskan niat semata-mata beribadah karena menyambut seruan Alloh taala. Niat akan menentukan amal yang akan dikerjakan, dengan lurusnya niat semoga akan membantu dalam mengerjakan umroh yang kita kerjakan dengan sempurna.
  2. Bertaubat atas semua kesalahan yang pernah dikerjakan. Kita tentu saja sulit mengingat-ingat hal yang sudah dilakukan d masa lalu apakah menyakiti orang atau tidak Oleh karena itu lebih baik bila sebelum berangkat umroh kita memnita maaf terutama kepada ayah, ibu, keluarga dan tetangga dekat.
  3. Belajar mengetahui hukum-hukum agama seputar ibadah umroh, misalnya hal yang dilarang selama umroh termasuk juga hal yang berkaitan dengan itu misalnya sholat dalam perjalanan, cara tayamum, waktu-waktu sholat, cara mengerjakan sholat sunah dan adab pergaulan sesama muslim.
  4. Melunasi hutang, mengembalikan barang titipan termasuk juga mencari sumber dana yang halal yang akan digunakan untuk biaya umroh. Termasuk juga biaya untuk keluarga yang kita tinggalkan yang menjadi tanggungan kita.
  5. Menjaga amalan baik yang wajib dan sunah, supaya nanti kita juga terbiasa menjaga amalan selama di tanah suci karena salah satu indikasi umroh yang mabrur adalah tidak tertinggal dalam hal yang wajib maupun yang sunah.

 

B. Persiapan Fisik

Ibadah umroh termasuk ibadah yang tidak ringan terutama bagi orang yang lanjut usia. Sebagaimana diketahui kebanyakan jamaah haji dan umroh adalah orang-orang dengan usia 60 tahun ke atas. Hanya sebagian yang berusia 50 tahun ke bawah. Oleh karena itu ada beberapa persiapan yang perlu dilakukan berkenaan dengan persiapan fisik:

  1. Lari-lari kecil, jalan kaki atau melakukan aktifitas olahraga  lainnya setiap pagi untuk melatih kebugaran badan.
  2. Bila perlu minum multivitamin untuk menjaga daya tahan tubuh. Biasanya tubuh membutuhkan multivitamin untuk menjaga tetap bugar dan sehat selama melakukan aktifitas yang membutuhkan energi yang banyak.
  3. Terutama bagi kalangan muda usia 50 tahun ke bawah yang tentu mempunyai fisik yang lebih baik daripada yang usia lanjut, ada baiknya juga untuk membantu teman-teman seperjalanan yang telah lanjut usia dalam beribadah umroh. Banyak diantara jamaah yang selain sudah lanjut usia juga memiliki keterbatasan pengetahuan misalnya tidak bisa menggunakan lift, dll. Semoga dengan membantu mereka akan membantu kesempurnaan ibadah umroh kita.
  4.  Lakukan general check up. Jika sedang menderita suatu penyakit terutama penyakit infeksi segera tanggulangi dengan bantuan dokter. Jika memiliki penyakit menetap, mintalah semua perlengkapan medis yang dibutuhkan untuk mencegah penyakit tersebut kambuh pada saat melaksanakan ibadah. Vaksinasi untuk beberapa penyakit tertentu akan disarankan oleh dokter Anda. Bila perlu bisa konsulltasi ke dokter untuk mendapatkan arahan kesehatan yang lebih sesuai untuk kondisi kita, termasuk obat-obatan yang perlu dibawa ke tanah suci.

Berikut ini adalah beberapa tips tambahan menjelang keberangkatan umroh:

  1. Lakukan gaya hidup sehat dengan makanan yang seimbang dan olahraga yang teratur. Tips umroh ini dimaksudkan untuk menjaga kebugaran tubuh Anda sebelum dan selama pelaksanaan ibadah.
  2. Ketika melaksanakan ibadah umroh Anda akan melakukan perjalanan kaki sekian puluh kilometer per hari. Sangat disarankan untuk melatih kaki Anda dengan rutin berjalan kaki selama satu jam setiap harinya.
  3. Cuaca di tanah suci sangat ekstrim. Lebih baik untuk mempersiapkan diri terbiasa tersengat matahari demikian juga dengan pakaian yang akan dibawa. Setiap tips umroh akan menyarankan Anda untuk wajib menyiapkan baju hangat kaus kaki kaus tangan dan tutup kepala.
  4. Biasakan untuk banyak minum  air putih dan sebisa mungkin meninggalkan minuman manis. Udara di sana sangat panas, air putih akan mencegah Anda dehidrasi sedangkan minuman manis hanya akan membuat darah Anda lebih pekat dan mudah kelelahan.

Semoga dengan tips  persiapan umroh di atas, akan membantu kita memaksimalkan ibadah di tanah suci dengan lebih baik. Amiin

 

Feb 07

Tips Packing Sebelum Berangkat Umrah

Jamaah umrah laki-laki dan perempuan tentu harus menyiapkan perlengkapan umrah yang harus dibawa selama berada di Tanah Suci. Berikut ini Tips Packing Perlengkapan Umrah untuk laki-laki dan perempuan.

Perlengkapan umrah pria/laki-laki:

  1. Celana panjang 2 stel
  2. Baju takwa 2 stel
  3. Sarung 2 buah
  4. Kain ihram dan sabuknya. Kain ihram dan sabuknya ini biasanya sudah diberikan oleh biro umrah ketika kita sudah melunasi pembayaran sehingga tidak perlu beli lagi.
  5. Kaos oblong  2 atau 3 buah.  Untuk kaos oblong cukup bawa 2 atau 3 buah, tetapi dengan catatan setelah dipakai bisa segera dicuci sendiri. Tetapi kalo malas mecuci bisa bawa kaos oblong yang lebih banyak.
  6. Jaket 1 buah. Jaket berguna untuk menahan dingian terutama ketika kita menunggu penerbangan di bandara Internasional yang AC nya sangat dingin.
  7. Alat cukur (shaver, bukan silet)
  8. Sandal 1 pasang
  9. Keperluan mandi (sabun, pasta gigi, sikat gigi, handuk)
  10. Obat-obatan yang cocok. Bawalah obat-obat yang biasa digunakan untuk penyakit ringan yang biasa menyerang seperti obat batuk, flu dan sakit kepala, obat gosok (minyak kayu putih, minyak angin, dll) atau obat resep dokter yang biasa dikonsumsi.

Perlengkapan Umrah Bagi Perempuan/wanita:

  1. Baju sehari-hari 3 pasang
  2. Mukena 1 buah
  3. Kaos tangan terbuka tapak tangan 2 bh
  4. Kaos kaki
  5. Kain ihram
  6. Baju tidur
  7. Keperluan mandi (sabun, pasta gigi, sikat gigi, handuk, samphoo, minyak wangi)
  8. Obat-ob0tan yang cocok.

Baju dan perlengkapan umrah di atas adalah keperluan standar untuk ibadah umrah selama 9-12 hari. Masing-masing orang bisa menyiapkan perlengkapan umrah lebih dari yang tertera diatas bila dirasa kurang.

Ketika kita sudah melunasi pembayaran biaya umrah maka kita akan diberikan 3 tas yang terdiri dari Tas trolly (yang akan dibagasikan), tas tenteng dan tas kecil. Tas kecil itu nantinya akan kita pakai terus. Tas ini nantinya untuk tempat untuk menyimpan paspor dan tiket pesawat dan juga obat-obat ringan atau obat gosok atau minyak angin yang biasa kita gunakan ketika bepergian. Tas ini juga bisa diisi buku kecil /notes dan pulpen bagi yang mungkin biasa menulis. Tas kecil ini bisa juga diisi buku doa kecil atau buku panduan umrah yang kita punya untuk kita baca-baca sambil menunggu penerbangan.

Sedangkan tas tenteng ketika berangkat boleh tidak kita isi apa-apa tetapi tetap perlu dibawa. Kegunaan tas tenteng ini adalah untuk tempat pakaian ihram ketika kita akan mengambil niat ihram dan juga bisa untuk tempat meletakkan pakaian kotor kita. Jadi nanti tas tenteng bisa dimasukkan di tas trolly.

Cara Packing Perlengkapan Umroh

Ketika manasik umrah memang boleh ditanyakan mengenai cara packing perlengkapan umrah. Berikut ini hanya cara praktis packing perlengkapan umrah: Tas tenteng silakan masukkan kedalam tas trolly besar. Setelah itu diatasnya bisa dimasukkan perlengkapan umrah seperti yang tertera di atas. Berikut ini beberapa catatan yang penting tentang cara packing  perlengkapan umrah:

  1. Jangan lupa memberi nama dan alamat kita pada ketiga tas diatas supaya tidak tertukar dengan yang lain mengingat semua tas warna dan jenisnya sama.

Catatan: no 2-4 di bawah ini bagi yang sudah biasa menggunakan jasa transporatasi pesawat terbang tentu tahu aturan penerbangan. Bagi yang tidak biasa berikut ini aturan penerbangan yang harus anda ikuti:

  1. Semua jenis pisau, silet yang terbuat dari logam dan senjata tajam lainnya seperti pemotong kuku, gunting dimasukkan dalam tas/koper yang dibagasikan, jangan dimasukkan di tas tenteng/tas paspor.
  2. Semua jenis cairan/gel yang berukuran lebih dari atau diatas 100ml seperti pasta gigi, parfum, shampo, sabun cair, minyak rambut lebih baik dimasukkan kedalam tas trolly yang dibagasikan.
  3. Beban Bagasi maksimal adalah 20kg/orang, biasanya secara umum kelebihan bagasi per 1 klogram akan dikenakan denda Rp 15.000.  Kelebihan bagasi ini biasanya terjadi ketika pulang karena ada tambahan oleh-oleh umrah.

Demikian tips packing perlengkapan umrah. Semoga dengan persiapan kita yang matang, ibadah umrah yang dijalankan dapat berjalan dengan khidmat dan lancar. Amiin

Feb 06

Dalam Dekapan Ukhuwah

“seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya
memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti
memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan
kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi”

Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.

Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,

“Masya Allah” ’Utsman berseru, ”Bukankah itu Amirul Mukminin?!”

Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al Khaththab.

”Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat tenaga dari pintu dangaunya,

“Apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!”

Dinding dangau di samping Utsman berderak keras diterpa angin yang deras.

”Seekor unta zakat terpisah dari kawanannya. Aku takut Allah akan menanyakannya padaku. Aku akan menangkapnya. Masuklah hai ‘Utsman!” ’Umar berteriak dari kejauhan. Suaranya bersiponggang menggema memenuhi lembah dan bukit di sekalian padang.

“Masuklah kemari!” seru ‘Utsman, “Akan kusuruh pembantuku menangkapnya untukmu!”.

”Tidak!”, balas ‘Umar, “Masuklah ‘Utsman! Masuklah!”

“Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah, Insya Allah unta itu akan kita dapatkan kembali.“

“Tidak, ini tanggung jawabku. Masuklah engkau hai ‘Utsman, anginnya makin keras, badai pasirnya mengganas!”

Angin makin kencang membawa butiran pasir membara. ‘Utsman pun masuk dan menutup pintu dangaunya. Dia bersandar dibaliknya & bergumam,

”Demi Allah, benarlah Dia & RasulNya. Engkau memang bagai Musa. Seorang yang kuat lagi terpercaya.”

‘Umar memang bukan ‘Utsman. Pun juga sebaliknya. Mereka berbeda, dan masing-masing menjadi unik dengan watak khas yang dimiliki.

‘Umar, jagoan yang biasa bergulat di Ukazh, tumbuh di tengah bani Makhzum nan keras & bani Adi nan jantan, kini memimpin kaum mukminin. Sifat-sifat itu –keras, jantan, tegas, tanggungjawab & ringan tangan turun gelanggang – dibawa ‘Umar, menjadi ciri khas kepemimpinannya.

‘Utsman, lelaki pemalu, anak tersayang kabilahnya, datang dari keluarga bani ‘Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman sentausa. ’Umar tahu itu. Maka tak dimintanya ‘Utsman ikut turun ke sengatan mentari bersamanya mengejar unta zakat yang melarikan diri. Tidak. Itu bukan kebiasaan ‘Utsman. Rasa malulah yang menjadi akhlaq cantiknya. Kehalusan budi perhiasannya. Kedermawanan yang jadi jiwanya. Andai ‘Utsman jadi menyuruh sahayanya mengejar unta zakat itu; sang budak pasti dibebaskan karena Allah & dibekalinya bertimbun dinar.

Itulah ‘Umar. Dan inilah ‘Utsman. Mereka berbeda.

Bagaimanapun, Anas ibn Malik bersaksi bahwa ‘Utsman berusaha keras meneladani sebagian perilaku mulia ‘Umar sejauh jangkauan dirinya. Hidup sederhana ketika menjabat sebagai Khalifah misalnya.

“Suatu hari aku melihat ‘Utsman berkhutbah di mimbar Nabi ShallaLlaahu ‘Alaihi wa Sallam di Masjid Nabawi,” kata Anas . “Aku menghitung tambalan di surban dan jubah ‘Utsman”, lanjut Anas, “Dan kutemukan tak kurang dari tiga puluh dua jahitan.”

Dalam Dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi.

Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat tulus pada saudara yang sedang diberi amanah memimpin umat. Tetapi jangan membebani dengan cara membandingkan dia terus-menerus kepada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat pada saudara yang tengah diamanahi kekayaan. Tetapi jangan membebaninya dengan cara menyebut-nyebut selalu kisah berinfaqnya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat saudara yang dianugerahi ilmu. Tapi jangan membuatnya merasa berat dengan menuntutnya agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai bahawa Ibrani dalam empat belas hari.

Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi menggugatnya agar tepat seperti tokoh lain pada masa yang berbeda. ‘Ali ibn Abi Thalib yang pernah diperlakukan begitu, punya jawaban yang telak dan lucu.

“Dulu di zaman khalifah Abu Bakar dan ‘Umar” kata lelaki kepada ‘Ali, “Keadaannya begitu tentram, damai dan penuh berkah. Mengapa di masa kekhalifahanmu, hai Amirul Mukminin, keadaanya begini kacau dan rusak?”

“Sebab,” kata ‘Ali sambil tersenyum, “Pada zaman Abu Bakar dan ‘Umar, rakyatnya seperti aku. Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”

Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Tetapi caranya bukan menuntut orang lain berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar, “Utsman atau ‘Ali.

Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa’d ibn Abi Waqqash melakukan peran Abu Bakar, fahamilah dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah diri kita sebagai orang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafush shalih dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti.

Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang sunyi dalam dekapan ukhuwah.

Ialah teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki mempunyai sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan menjadi ikutan sepanjang masa.

Selanjutnya, kita harus belajar untuk menerima bahwa sudut pandang orang lain adalah juga sudut pandang yang absah. Sebagai sesama mukmin, perbedaan dalam hal-hal bukan asasi tak lagi terpisah sebagai “haq” dan “bathil”. Istilah yang tepat adalah “shawab” dan “khatha”.

Tempaan pengalaman yang tak serupa akan membuatnya lebih berlainan lagi antara satu dengan yang lain.

Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita pahami, itu tidak seharusnya membuat kita terbutakan dari kebenaran yang lebih bercahaya.

Imam Asy Syafi’i pernah menyatakan hal ini dengan indah. “Pendapatku ini benar,” ujar beliau,”Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain itu salah, namun bisa jadi mengandung kebenaran.”

 

Oleh: Salim A. Fillah

Feb 05

Agar jangan …

Suatu hari, Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para sahabat sedang asyik mendiskusikan sesuatu.
Tiba-tiba datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.

Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata :
“Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!”

“Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini !”.

Umar segera bangkit dan berkata :
“Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda?”

Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata :
“Benar, wahai Amirul Mukminin.”

“Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.”, tukas Umar.

Pemuda lusuh itu kemudian memulai ceritanya :

“Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku di kota ini, ku ikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia (unta). Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera ku cabut pedangku dan kubunuh ia (lelaki tua tadi). Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini.”

“Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.”, sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.

“Tegakkanlah had Allah atasnya!” timpal yang lain.

Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.

“Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat”, ujarnya.

“Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat (tebusan) atas kematian ayahmu”, lanjut Umar.

“Maaf Amirul Mukminin,” sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala,

“Kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa”.

Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur, dan bertanggung jawab.

Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata :
“Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah”, ujarnya dengan tegas.

“Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash”.

“Mana bisa begitu?”, ujar kedua pemuda yang ayahnya terbunuh.

“Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?”, tanya Umar.

“Sayangnya tidak ada, Amirul Mukminin”.
“Bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggung jawaban kaumku bersamaku?”, pemuda lusuh balik bertanya kepada Umar.

“Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji.” kata Umar.

“Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah-lah penjaminku wahai orang-orang beriman”, rajuknya.

Tiba-tiba dari belakang kerumunan terdengar suara lantang :
“Jadikan aku penjaminnya, wahai Amirul Mukminin”.

Ternyata Salman al-Farisi yang berkata.

“Salman?” hardik Umar marah.
“Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini”.

“Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, yaa, Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya”, jawab Salman tenang.

Akhirnya dengan berat hati, Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh. Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.

Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.

Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman, salah satu sahabat Rasulullah S.A.W. yang paling utama.

Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatan
gan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.

Akhirnya tiba waktunya penqishashan. Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, karena menyaksikan orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.

Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.

”Itu dia!” teriak Umar.
“Dia datang menepati janjinya!”.

Dengan tubuhnya bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.

”Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku, wahai Amirul Mukminin..” ujarnya dengan susah payah,
“Tak kukira… urusan kaumku… menyita… banyak… waktu…”.
”Kupacu… tungganganku… tanpa henti, hingga… ia sekarat di gurun… Terpaksa… kutinggalkan… lalu aku berlari dari sana..”

”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum,

“Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?” tanya Umar.

”Aku kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan… di kalangan Muslimin… tak ada lagi ksatria… menepati janji…” jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.

Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya :
“Lalu kau, Salman, mengapa mau- maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?”

Kemudian Salman menjawab :

” Agar jangan sampai dikatakan, dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”.

Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.

”Allahu Akbar!”, Tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak.

“Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”.

Semua orang tersentak kaget.

“Kalian…” ujar Umar.
“Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru.

Kemudian dua pemuda menjawab dengan membahana :
”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya”.

”Allahu Akbar!” teriak hadirin.

Pecahlah tangis bahagia, haru dan suka cita oleh semua orang.
Masya Allah…, saya bangga menjadi muslim bersama kita ksatria-ksatria muslim yang memuliakan al islam dengan berbagi pesan nasehatnya untuk berada dijalan-Nya..
Allahu Akbar …

 

Cerita ini dikutip dari www.kisahinspirasi.com

Jan 10

Program UMRAH 2018

PAKET  REGULER  UMROH  PROMO 2018
FEBRUARI-MARET-APRIL 2018 (Resmi & Berasuransi)
~
Masih tersedia di tgl 04 feb & 17 maret 2018.
Mhn maaf, Januari sudah full 3 group.
»»»
(EKONOMI)
QUAD : 23.000.000
MAKKAH: REYADAH HIJRAH 4N
MADINAH: DAR NAEEM 3 N
~
(REGULER/MEDIUM)
QUAD: 25.500.000
MAKKAH: AZKA SAFA 4N
MADINAH: HYATT MADINAH 3N
~
(VIP)
QUAD: 30.500.000
MAKKAH: ZAM_ZAM 4 N
MADINAH : GLORIA 3 N

Harga tsb. Quad (1 kamar 4 org),  sudah All in.

Hubungi kami:  081514555671 (telp)

08129497563 (WA)

Apr 01

MAJLIS NABAWI

Ketika matahari mulai bersinar terang dan setelah Rasulullah saw., keliling menemui para istri, beliau kembali ke masjid. Saat masuk, beliau shalat tahiyat masjid di salah satu tiang bernama tiang Muhajirin. Tiang ini berada di tengah-tengah Raudhah. Setelah itu beliau duduk di sisi timur masjid di Raudhah dengan bersandar di kamar Aisyah, para sahabat berkumpul menghampiri beliau. Pertemuan ini rutin, dimana siapa yang ingin bertemu Nabi saw., di waktu-waktu seperti ini, bisa datang ke masjid. Para sahabat di sekitar beliau kadang sedikit, dan kadang banyak, tergantung waktu luang dan situasi kehidupan mereka. 

Continue reading