Baitullah, Rumah Allah yang Begitu Sederhana

Ka’bah yang berada di dalam “rumah Allah” sesungguhnya bukan merupakan rumah yang megah tidak pula terbuat dari emas dan berlian. Justru sebaliknya, ka’bah didirikan dari batu-batu yang disusun oleh tangan seorang manusia yang mengutamakan Allah SWT di atas segalanya, yaitu Nabi Ibrahim as. Bersama putranya, Ismail as ditegakkanlah bangunan sederhana yang direkatkan dengan penuh ketaqwaan sehingga dijanjikan akan tetap kokoh tertanam disana hingga hari kiamat tiba.

Imam Ibnu Katsir menceritakan bahwa Nabi Ibrahim as dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan dimana hanya ada tiga orang yang menyembah Allah SWT, yaitu Nabi Ibrahim as, Siti Sarah istrinya, dan Luth as keponakannya. Berulang kali Nabi Ibrahim as mengajak orang-orang, termasuk ayah kandungnya, untuk meninggalkan sesembahan mereka yaitu patung, bintang, bulan, dan matahari untuk hanya menyembah Allah Ta’ala, namun mereka semua menolak.

Al-Qur’an dalam surat Al-Anbiya menceritakan bahwa suatu hari sepulang dari perayaan hari besarnya, para penyembah berhala kembali ke kuil dan menemukan bahwa berhala-berhala kecil sesembahan mereka telah hancur berkeping-keping dan hanya tersisa berhala yang terbesar. Kemudian Nabi Ibrahim as diseret ke muka umum karena beliau pernah mencela berhala yang disembah tersebut, dan dituduh sebagai pelaku penghancuran berhala tersebut.

Mereka bertanya “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, Hai Ibrahim?” (62)
Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya. Karena itu tanyakanlah kepada berhala-berhala (yang sudah hancur) itu, jika mereka dapat berbicara” (63)

Sejenak para penyembah berhala terdiam karena menyadari bahwa tuhan yang selama ini mereka sembah bahkan tidak bisa berbicara, apalagi membela diri. Namun ketika Nabi Ibrahim as kembali meluruskan mereka untuk hanya menyembah Allah swt, mereka bertambah marah.

Mereka berkata kepada kaumnya: “Bakarlah dia, dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak” (68)

Disinilah Allah swt menguji keteguhan hati Nabi Ibrahim as bahwa hanya Allah lah yang pantas disembah. Ibnu ‘Abbas ra menceritakan kalimat terakhir yang diucapkan Nabi Ibrahim as sebelum dilemparkan ke dalam api adalah “Cukuplah Allah bagiku, dan Dialah sebaik-baik pelindung” (HR Bukhari). Kemudian pertolongan Allah swt datang melalui firmanNya kepada api “Hai api menjadi dinginlah, dan jadilah keselamatanlah bagi Ibrahim” (69)

Demikianlah Allah Ta’ala menyelamatkan Nabi Ibrahim as dari api berdasarkan keteguhannya bertauhid kepada Allah swt.


Puluhan ribu tahun telah berlalu, dan segalanya telah berubah. Tentu jauh dari sang panutan, Nabi Ibrahim as. Hari ini, kebanyakan dari kita justru hanya memberikan kepada Allah swt sisa harta, sisa tenaga, sisa waktu, sisa hati, dan sisa pikiran kita. Padahal situasinya tetap sama, yaitu kita semua bergantung kepada Allah swt dan hanya dapat memohon pertolongan dan perlindunganNya. Kita semua mengharap pertolongan Allah untuk menyediakan darah di seluruh tubuh, untuk setiap udara yang kita hirup, untuk setiap tetes air yang kita minum. Kita sama seperti Nabi Ibrahim as, karena kita sungguh tidak ada apa-apanya.

Kemudian kita menyadari, bahwa bukanlah marmer, emas, atau berlian yang membuat ka’bah tidak pernah berhenti disesaki jutaan umat manusia yang bersujud. Karena keinginan mengunjunginya bukan terletak pada materialnya, tapi getaran iman dan ketaqwaan yang merekatkan satu demi satu bebatuan itu pada akhirnya akan menggetarkan hati-hati yang memiliki rindu yang sama dengan Nabi Ibrahim as: menemukan Rabbnya.

Tanpa kita sadari, jauh di sini kita sedang membangun sebuah rumah menggunakan batu-batu sisa, yang pada akhirnya entah apakah akan menyelamatkan atau justru dengan mudah dihancurkan. Dan seiring kita merekatkan satu persatu batu fondasi keimanan kita, akan selalu ada panggilan dari lubuk hati untuk menjadi salah satu hamba yang thawaf mengelilingi ka’bah dan bersujud langsung dihadapan ka’bah. Duduk dan bersimpuh di hadapan fondasi yang dibangun dengan kekuatan iman dan taqwa Nabi Ibrahim as, dan kemudian menyadari bahwa masih begitu banyak kebocoran yang perlu di tambal di rumah taqwa yang kita bangun.

Rindu dan panggilan itu, datang dari fithrah kita sebagai manusia
sebagai hamba yang sesungguhnya ingin kembali kepada Rabbnya.
One day, In sya Allah.

Wallahu a’lam
*oleh: Sayyidah Fithrie

Leave a Reply

Your email address will not be published.