Ramadhan: Momentum Perubahan

Ramadhan  adalah momentum tepat melakukan perubahan dalam berbagai segi kehidupan. Mulai dari individu, keluarga, masyarakat ataupun negara, untuk taat kepada Allah SWT.

Patut kita syukuri atas nikmat yang telah Ia berikan kepada, sampai hingga kini Allah SWT masih memberikan kesempatan kepada kita yang akan bertemu dengan bulan yang penuh dengan ampunan dan berkah, Ramadhan. Salah satu bukti syukur kita adalah berusaha menjadikan Ramadhan tahun ini sebagai momentum perubahan. Tidak hanya perubahan dalam tataran individu, namun juga masyarakat dan negara.

Ramadhan dapat kita jadikan momentum perubahan, ketika kita mampu memahaminya dengan benar. Salah satunya meyakini Ramadhan sebagai sarana meningkatkan ketaatan total kepada Allah SWT. Sehingga, pasca Ramadhan tampak perubahan pada diri kita khususnya, dan masyarakat umumnya.

Allah SWT berfirman :

ياأيهاالذين أمنواكتب عليكم الصيام كم كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون  { البقرة : 183 }

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)

Jauh hari menjelang ramadhan, Rasulullah SAW dan para sahabat telah melakukan persiapan. Mulai dari memantapkan keimanan (ruhiyah) hingga melakukan persiapan fisik, agar ketika Ramadhan telah benar-benar siap dalam melakukan berbagai macam bentuk ketaatan.

‘Aisyah RA mengungkapkan, ”Saya tidak pernah melihat rasulullah menyempurnakan puasanya kecuali pada bulan ramadhan. Saya tidak melihat rasulullah dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan sya’ban” ( HR Muslim ).

Dengan persiapan matang, kualitas shaum generasi awal sangat luar biasa. Amalan–amalan utama saat Ramadhan tidak pernah terlewatkan. Termasuk melakukan jihad fii sabilillah, walau dalam keadaan shaum. Lemahnya fisik tidak menjadi penghalang untuk meraih kemenangan, ketika kekuatan ruhiyah tertanam kuat dalam dada.

Sejarah mencatat beberapa perang besar saat Ramadhan yang membawa perubahan besar dalam sejarah. Di antaranya, perang Badar Al kubra pada 17 Ramadhan 2 Hijriah (Januari 624).

Menurut ibnu Hisyam, inilah perang pertama yang menentukan kedudukan umat islam dalam menghadapi kemusyrikan dan kebatilan. Allah SWT mengutus malaikat untuk membantu pasukan muslimin. Enam tahun kemudian, tepatnya 10 ramadhan 8 H (Januari 630 M), terjadi peristiwa penaklukkan kota mekah (Fathu Makkah).

Lalu ada perang Tabuk (Ramadhan 9 H) dan datangnya utusan Raja Himyar ke Madinah untuk menyatakan masuk islam, penyebaran islam ke Yaman di bawah pimpinan Ali bin Abi Thalib (Ramadhan 10 H), kemenangan tentara islam di pulau Rhodes (Ramadhan 53 H), pendaratan pasukan islam di pantai Andalusia Spanyol (Ramadhan 91 H), dan kemenangan panglima Thariq bin Zaid atas Raja Frederick dalam perang Fashillah (Ramadhan 92 H).

Pada Ramadhan 584 H, Panglima Islam, Salahuddin Al Ayyubi, meraih kemenangan gemilang. Tentara islam mengambil alih daerah–daerah yang sebelumnya dikuasai pasukan salib. Pada Ramadhan 658 H, kerajaan Tartar hancur dan pasukannya ditahan di pintu gerbang masjid di kota ‘Ain Jalut.

Idealnya, perubahan yang kita lakukan bukankah perubahan parsial, namun sebuah “revolusi”. Seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW, para sahabat dan generasi – generasi sesudahnya. Awali semuanya dengan menargetkan dan merancang perubahan tersebut secara bertahap. Dalam konteks ini, kita dapat mengawalinya dengan persiapan ilmu dan pemahaman yang benar tentang Ramadhan, serta ibadah–ibadah yang dianjurkan .

Persiapkan pula motivasi dan mental. Sudahkah kita menghisab diri, berapa banyak kita melaksanakan perintah –nya dengan ikhlas. Berapa banyak nikmat Allah swt yang kita ingkari. Padahal setiap perbuatan terikat dengan hukum syara’. Kita pun harus mempertanggung jawabkan semua yang pernah dilakukan. Siapa pun yang berani jujur pada dirinya, maka ia akan termotivasi untuk melakukan perubahan.

Syarat berikutnya adalah istiqamah atau konsistensi. Namun istiqamah ini memerlukan dukungan, baik dari internal (diri) maupun dari eksternal (lingkungan dan sistem). Tidak menutup kemungkinan kesalahan manusia disebabkan karena tidak kondusifnya lingkungan. Misalnya wanita Muslimah harus menanggalkan jilbabnya karena peraturan di tempat kerja mereka. Pemberantasan pornografi dan pornoaksi tidak bisa ditegakkan jika tidak ada undang–undangnya, dan sebagainya.

Sejatinya, perubahan itu tidak bisa terjadi hanya pada tataran individu saja. Sebab individu tidak bisa dilepaskan dari masyarakat dan aturan negara, pada masa Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin, ada tiga pilar penting untuk menjaga ketaatan terhadap aturan Allah. Yaitu pembinaan individu secara intensif, kontrol masyarakat, dan sistem (aturan negara). Pembinaan individu adalah untuk menjaga pemikiran kaum muslimin dari pemikiran–pemikiran yang merusak aqidah. Kontrol masyarakat berfungsi untuk  pengendalian dari kesalahan yang dilakukan individu.

Disinilah pentingnya kesalehan pribadi yang dibingkai kontrol masyarakat serta sistem yang islami. Sebab, islam adalah satu sistem, satu kesatuan yang tak terpisahkan . ketika satu bagian tidak berfungsi , maka fungsi bagian lain jadi tidak optimal.

Karena itu, manfaatkanlah Ramadhan sebagai momentum perubahan dalam aspek–aspek kehidupan kita. Entah itu dalam tataran individu, keluarga, masyarakat dan negara, agar lebih taat kepada Allah swt. Seminimalnya perubahan bagi diri sendiri dan keluarga, sebagai miniatur negara. Sebagaimana Al-qur’an yang turun ketika Ramadhan datang membawa misi perubahan, melakukan transformasi sosial dari masyarakat yang diliputi kegelapan menuju kehidupan yang terang benderang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.